
Kiprah alumni Program Studi Magister Bioetika UGM terus berkembang dan memberikan kontribusi pada berbagai persoalan kesehatan dan kemanusiaan. Salah satunya ditunjukkan oleh Dr. Puri Swastika Gusti Krisna Dewi, S.E., M.Si., M.M., M.Bio.Et., alumnus Program Studi Magister Bioetika UGM yang saat ini dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni Magister Bioetika Pascasarjana UGM. Melalui kepakaran multidisiplin dan perspektif bioetika, Dr. Puri aktif berkontribusi dalam pengembangan pemikiran dan edukasi mengenai persoalan etik dalam kehidupan dan pelayanan kesehatan.
Salah satu kontribusi tersebut diwujudkan melalui keterlibatannya sebagai narasumber dalam forum diskusi ilmiah RABOAN yang diselenggarakan oleh Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM. Forum kali ini mengangkat tema “Ethical Issues in Caring for Older Adults”, yang membahas berbagai persoalan etik dalam perawatan dan pendampingan lansia di tengah perubahan demografi global.
Dalam pemaparannya, Dr. Puri menyoroti pesatnya pertumbuhan populasi lansia dunia. Peningkatan angka harapan hidup merupakan capaian penting dalam pembangunan kesehatan, namun pada saat yang sama menghadirkan tantangan baru dalam memastikan lansia dapat menjalani kehidupan yang sehat, bermartabat, dan tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.
Menurut Dr. Puri, caring terhadap lansia tidak dapat dipahami semata-mata sebagai upaya mengelola penyakit atau keterbatasan fisik. Perawatan lansia perlu memperhatikan manusia secara utuh, termasuk identitas, emosi, relasi sosial, nilai-nilai personal, serta martabatnya. Perspektif tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan bioetika dalam menghadapi persoalan penuaan, terutama ketika kebutuhan akan perlindungan dan keselamatan dapat berhadapan dengan hak lansia untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri.
Dalam diskusi tersebut, Dr. Puri menggarisbawahi tiga tantangan etik utama dalam perawatan lansia. Pertama, konflik antara otonomi dan keamanan (autonomy vs. safety). Niat untuk melindungi lansia, baik dari keluarga maupun pendamping, dapat berkembang menjadi bentuk paternalisme yang justru membatasi hak lansia dalam mengambil keputusan mengenai kehidupannya sendiri.
Kedua, penjagaan martabat (dignity). Perawatan yang berorientasi pada dignity-conserving care diperlukan agar lansia tetap dipandang sebagai manusia yang utuh, bernilai, dan memiliki hak, bukan semata-mata berdasarkan usia, kondisi kesehatan, atau keterbatasan fisiknya.
Ketiga, persoalan ageism, yaitu stereotip, prasangka, maupun diskriminasi berdasarkan usia. Dr. Puri menekankan bahwa anggapan bahwa keluhan kesehatan tertentu merupakan hal yang “wajar karena usia” dapat menyebabkan kebutuhan lansia terabaikan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup lansia.
Diskusi juga menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam edukasi kesehatan. Edukasi tidak hanya perlu diberikan kepada keluarga dan caregiver, tetapi juga secara langsung kepada lansia. Dengan memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang memadai, lansia dapat lebih berdaya dalam mengambil keputusan, menjaga kesehatan, serta berpartisipasi aktif dalam mewujudkan healthy aging.
Kontribusi Dr. Puri dalam forum tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan Magister Bioetika dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang berkembang di masyarakat. Latar belakangnya yang multidisiplin, dipadukan dengan kompetensi bioetika, memungkinkan pendekatan terhadap isu lansia tidak hanya dilihat dari aspek medis, tetapi juga dari perspektif otonomi, martabat, relasi sosial, keadilan, dan kualitas hidup.
Sebagai alumnus sekaligus Ketua Ikatan Alumni Magister Bioetika Pascasarjana UGM, keterlibatan Dr. Puri juga mencerminkan peran strategis alumni dalam membawa perspektif bioetika ke ruang publik dan memperluas dampak keilmuan di luar lingkungan akademik. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih humanis mengenai penuaan dan mendorong praktik perawatan lansia yang menghormati hak serta martabat setiap individu.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, melalui penguatan pemahaman mengenai kesehatan, kesejahteraan, dan healthy aging pada kelompok lansia. Kontribusi juga berkaitan dengan SDG 4: Quality Education, melalui penyebarluasan pengetahuan dan edukasi mengenai bioetika serta perawatan lansia kepada masyarakat akademik dan praktisi. Selain itu, pembahasan mengenai otonomi, martabat, dan diskriminasi berbasis usia turut mendukung SDG 10: Reduced Inequalities, dengan mendorong penghormatan terhadap hak dan kesetaraan lansia dalam kehidupan sosial maupun pelayanan kesehatan.
Melalui kiprah alumni seperti Dr. Puri, Program Studi Magister Bioetika UGM menunjukkan kontribusinya dalam menghubungkan pendidikan, keilmuan, dan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperluas penerapan bioetika dalam menghadapi tantangan kesehatan dan kemanusiaan yang semakin kompleks.
Penulis : Yeti Susilowati