
Menjalani kehidupan dengan penyakit kronis bukan hanya menjadi tantangan bagi pasien, tetapi juga bagi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Proses perawatan yang panjang, beban psikologis, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan seringkali membuat pasien dan keluarganya membutuhkan dukungan menyeluruh. Dalam konteks inilah, pendekatan perawatan paliatif hadir untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik, bukan hanya melalui aspek medis, tetapi juga dukungan emosional, sosial, dan spiritual.
Sebagai upaya menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Magister Bioetika Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Kronis di Komunitas melalui Pembentukan KASIH (Kader Siaga Perawatan Paliatif Humanis)”. Acara ini berlangsung pada 27–28 Agustus 2025 di Balai RW 10 Bangunrejo, Kelurahan Kricak, Yogyakarta yang dihadiri oleh 50 peserta terdiri dari para kader dan para perwakilan keluarga yang memiliki pasien paliatif

Dalam kegiatan ini, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai perawatan paliatif melalui berbagai sesi, di antaranya: Dasar Perawatan Paliatif oleh Prof. Christantie Effendy, S.Kp., M.Kes, Identifikasi Kebutuhan Pasien Paliatif oleh Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N, Pentingnya Aspek Psikososial dan Spiritual oleh Prof. Sismindari, Apt., SU., Ph.D, serta Komunikasi Terapeutik dalam Perawatan Paliatif yang dipandu oleh tim fasilitator. Selain itu, masyarakat juga mengikuti sesi praktik aplikatif, yaitu Praktik Kebutuhan Aktivitas dan Mobilisasi oleh drg. Agnes Bhakti Pratiwi, M.P.H., Ph.D, Praktik Perawatan Kebersihan Diri oleh dr. Wika Hartanti, M.I.H Bersama dengan Mahmasoni Masdar, S.Kep., Ns., M.Kep. dan Praktik Komunikasi Terapeutik yang dipandu oleh Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N Bersama dengan Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc
Seluruh sesi praktik ini dilaksanakan dengan pendampingan fasilitator sehingga masyarakat dapat langsung mempelajari keterampilan yang relevan untuk mendukung kebutuhan pasien di rumah maupun komunitas.
Melalui pembentukan KASIH, diharapkan hadir kader-kader yang mampu menjadi garda terdepan dalam mendampingi pasien kronis di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kader ini tidak hanya berperan memberikan perawatan dasar, tetapi juga menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan profesional.
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan). Dengan adanya KASIH, diharapkan pelayanan kesehatan yang holistik dan humanis dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang paling rentan, sehingga kualitas hidup pasien kronis dapat terus ditingkatkan.
Reporter : Rafi Khairuna Wibisono, S.Kom