
Ketua Tim Peneliti :
Prof. Dr. apt. Sismindari, S.U;
Anggota :
Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M. A; dr. Wika Hartanti, M.I.H; dr. RM Agit Seno Adisetiadi, Sp.PD,. Subsp.H.Onk.M (K); Mahmasoni Masdar, S.Kep., Ns., M.Kep; Ika Setyasari, S.Kep., Ns., M.N.Sc
Keputusan menghentikan ventilator, menurunkan obat penopang tekanan darah, atau membawa pulang pasien dalam kondisi sangat kritis bukan sekadar tindakan klinis teknis. Di banyak ruang perawatan intensif, pilihan melanjutkan atau menghentikan pengobatan berada di wilayah abu abu antara harapan keluarga, keterbatasan medis, dan ketiadaan payung hukum yang tegas. Tim peneliti Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa kerangka perawatan paliatif dan bioetika dapat membantu tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga menutup perjalanan hidup secara lebih manusiawi sekaligus selaras dengan agenda Sustainable Development Goals atau SDGs.
Penelitian yang didanai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana UGM tahun 2025 ini mengkaji secara mendalam dua kasus laki laki lanjut usia dengan cedera medula spinalis servikal berat yang dirawat di rumah sakit pendidikan di Yogyakarta. Keduanya mengalami kelumpuhan luas, ketergantungan ventilator, dan dirawat lama di unit perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal di rumah. Melalui studi kasus ini, tim peneliti berupaya memetakan bagaimana keputusan mengenai penurunan dan penghentian pengobatan diambil berdasarkan pertimbangan klinis, etik, sosial, dan spiritual.
Pada kasus pertama yang disamarkan sebagai Pak P, perawatan berjalan dalam pola terapi agresif. Pasien menjalani operasi tulang belakang, rangkaian kultur dan antibiotik berulang, penggunaan vasopresor, transfusi, hingga prosedur invasif lain sambil tetap bergantung pada ventilator. Secara neurologis, kerusakan dinilai tidak dapat pulih, tetapi kerangka paliatif belum hadir secara eksplisit sehingga tujuan terapi tetap berfokus pada upaya kuratif. Perubahan arah baru muncul setelah berbagai tindakan tidak lagi memberikan manfaat yang sepadan dengan beban pasien dan keluarga.
Berbeda dengan itu, kasus kedua yang disamarkan sebagai Pak C sejak awal diposisikan sebagai cedera berat dengan peluang pemulihan yang sangat kecil. Operasi tidak dilakukan, trakeostomi dipilih lebih dini, dan strategi perawatan sejak awal didokumentasikan sebagai konservatif dengan orientasi pro paliatif. Tim perawatan intensif bekerja bersama tim paliatif dan case manager untuk menyusun rencana pulang berisiko tinggi, melatih keluarga merawat di rumah, dan mengintegrasikan aspek klinis, sosial, serta spiritual ketika mempertimbangkan penghentian obat penopang tekanan darah.
Perbandingan dua kasus ini memperlihatkan bahwa kehadiran kerangka paliatif yang jelas sejak awal membantu tim klinis menilai proporsionalitas tindakan. Infeksi tetap diobati, nyeri dan gejala dikendalikan, tetapi target pemulihan total tidak lagi dikejar ketika tidak realistis. Keputusan untuk tidak memulai tindakan baru yang invasif atau menghentikan obat tertentu dipahami sebagai upaya mencegah terapi yang tidak bermanfaat, bukan sebagai tindakan menyerah terhadap pasien. Pendekatan seperti ini mengurangi risiko terapi berlebihan yang menambah penderitaan pada fase akhir hayat.
Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan empirical ethics yang memadukan analisis rekam medis dan dokumen klinis dengan wawancara mendalam dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, case manager, serta keluarga pasien. Data dianalisis secara kualitatif untuk memetakan bagaimana prinsip otonomi, kemanfaatan, non maleficence, dan keadilan dinegosiasikan dalam praktik sehari hari di unit perawatan intensif. Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa tenaga kesehatan sering merasakan kebingungan, cemas, dan moral distress ketika harus memutuskan melanjutkan atau menghentikan pengobatan penopang hidup.
Temuan studi kasus ini sangat terkait dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera yang menekankan akses layanan kesehatan yang berkualitas di sepanjang daur hidup termasuk akhir hayat. Perawatan paliatif yang terintegrasi di unit perawatan intensif memastikan bahwa pasien dengan kondisi tidak dapat disembuhkan tetap memperoleh pengendalian gejala, dukungan psikososial, dan pendampingan spiritual. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada angka kelangsungan hidup, tetapi juga pada kualitas hidup dan martabat pasien ketika mendekati kematian.
Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada SDG 16 yang menyoroti pentingnya kelembagaan yang tangguh, akuntabilitas, dan keadilan. Keputusan penghentian pengobatan penopang hidup yang diambil tanpa panduan etik dan prosedur yang jelas berisiko menimbulkan konflik, ketidakpastian hukum, dan ketidakadilan bagi pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan. Dengan memetakan alur keputusan dan peran komite etik, tim perawatan paliatif, serta case manager, studi ini membantu rumah sakit mengembangkan tata kelola yang lebih transparan dan perlindungan yang lebih kuat bagi semua pihak.
Rekomendasi yang dihasilkan antara lain penetapan indikator klinis yang jelas sebagai pemicu rujukan dini ke tim paliatif, penyelenggaraan family meeting terstruktur di unit perawatan intensif, serta penguatan kolaborasi formal antara tim klinis, tim paliatif, case manager, dan komite etik. Tenaga kesehatan juga memerlukan pendidikan berkala mengenai komunikasi kabar buruk, pengambilan keputusan bersama dalam konteks budaya familistik, serta konsep proportionality dan futility agar merasa lebih aman secara etik ketika mempertimbangkan pembatasan terapi. Penelitian ini juga menekankan perlunya panduan tertulis mengenai withholding dan withdrawing life sustaining treatment yang selaras dengan regulasi nasional dan prinsip bioetika.
Dimensi sosial dan ekonomi keluarga tidak kalah penting karena kualitas akhir hayat tidak hanya dipengaruhi parameter klinis. Kondisi ekonomi, jarak rumah, dukungan komunitas, dan makna pulang bagi keluarga ikut menentukan pilihan akhir perawatan. Dengan memasukkan asesmen sosial dan preferensi pasien ke dalam perencanaan pulang, rumah sakit dapat mengurangi ketimpangan akses terhadap akhir hayat yang bermartabat bagi pasien dengan sumber daya berbeda. Pendekatan ini selaras dengan semangat SDGs yang menekankan asas no one left behind.
Melalui riset ini, Sekolah Pascasarjana UGM menunjukkan bahwa diskusi mengenai SDGs tidak hanya relevan untuk isu kemiskinan, lingkungan, atau pendidikan, tetapi juga untuk cara kita merawat orang yang sedang berada di ujung kehidupan. Pengembangan layanan paliatif yang etis, inklusif, dan berbasis bukti di rumah sakit pendidikan menjadi langkah konkret untuk mewujudkan sistem kesehatan yang lebih manusiawi sekaligus mendukung pencapaian SDG 3 dan SDG 16 di Indonesia.
Editor : Rafi