
Yogyakarta, 25 September 2025 — Dalam dunia pelayanan kesehatan modern, menghormati pilihan dan nilai-nilai pasien menjadi tantangan yang semakin kompleks. Untuk memperdalam pemahaman mengenai penerapan prinsip otonomi pasien dalam praktik klinis, Program Studi Magister Bioetika Sekolah Pascasarjana UGM bekerja sama dengan Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM menyelenggarakan Guest Lecture bertajuk “Respecting Patient’s Preferences: Autonomy and Practical Approaches in Clinical Care” pada Kamis, 25 September 2025.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang A, Sekolah Pascasarjana UGM ini menghadirkan Prof. D.L. (Dick) Willems, MD, PhD dari University of Amsterdam | Amsterdam UMC sebagai pembicara utama, dengan Erlin Erlina, SIP, MA, Ph.D sebagai moderator. Acara diselenggarakan dalam format hybrid dan diikuti oleh mahasiswa, akademisi, dan praktisi dari berbagai bidang kesehatan.
Dalam pemaparannya, Prof. Dick Willems menjelaskan bahwa prinsip respect for autonomy menandai perubahan paradigma dalam etika klinik — dari fokus memperpanjang hidup menuju upaya memaksimalkan kualitas hidup pasien. Ia menekankan bahwa menghormati otonomi bukan sekadar memberikan kebebasan untuk menolak tindakan medis, melainkan juga memahami nilai-nilai hidup dan tujuan pribadi pasien dalam konteks pengambilan keputusan.
Berbagai perspektif filosofis turut dibahas, mulai dari pandangan John Stuart Mill tentang kebebasan individu, Immanuel Kant mengenai penghormatan terhadap sesama makhluk otonom, hingga Jean-Paul Sartre tentang keotentikan pilihan hidup. Prof. Willems juga menyoroti konsep relational autonomy, yang memandang otonomi sebagai hasil dari dukungan sosial dan relasi yang sehat — relevan terutama dalam kasus pasien anak, lansia, atau dengan gangguan psikiatri.
Melalui serangkaian kasus klinis seperti penggunaan advance directive pada pasien demensia, konflik otonomi dalam keluarga, hingga dilema etis terkait privasi dan teknologi medis, diskusi menyoroti betapa pentingnya keseimbangan antara kebebasan pasien, tanggung jawab profesional tenaga medis, dan keselamatan pasien.
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengangkat isu-isu seputar digitalisasi informasi medis, persetujuan tindakan (informed consent) di Indonesia, serta tantangan otonomi pasien dalam konteks disabilitas dan kesehatan jiwa. Prof. Willems menekankan pentingnya kompetensi etik tenaga kesehatan dalam menyaring informasi, bernegosiasi dengan pasien dan keluarga, serta menjaga nilai kemanusiaan dalam setiap keputusan klinis.
Kegiatan ini juga menampilkan presentasi proposal tesis mahasiswa Magister Bioetika, yang mendapat masukan konstruktif dari Prof. Willems terkait pendekatan penelitian dan relevansi etika dalam konteks pendidikan serta perlakuan terhadap makhluk hidup.
Guest Lecture ini menjadi wadah penting untuk memperkuat refleksi etik di bidang kesehatan serta meneguhkan komitmen CBMH UGM dan Magister Bioetika UGM dalam memajukan praktik kedokteran yang berpusat pada manusia dan berlandaskan penghormatan terhadap martabat serta otonomi pasien.
Inisiatif ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 3 dan 4, yaitu Good Health and Well-being serta Quality Education, melalui penguatan kapasitas etika klinis dan pembelajaran lintas disiplin untuk mendukung pelayanan kesehatan yang berkeadilan dan berorientasi pada kemanusiaan.
Reporter : Rafi Khairuna Wibisono, S.Kom