
Yogyakarta, 26 November 2025 – Sebuah penelitian terbaru dari Magister Bioetika, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada menyoroti dinamika keseharian tenaga kesehatan di puskesmas Kota Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian tenaga kesehatan mengalami tekanan moral dalam menjalankan tugas, terutama ketika tuntutan pekerjaan tidak selalu sejalan dengan kemampuan sistem pelayanan kesehatan.
Penelitian ini melibatkan 85 tenaga kesehatan dari tiga puskesmas di wilayah Kota Yogyakarta dan menggunakan modifikasi instrumen Measure of Moral Distress–Primary Healthcare Professionals (MMD-HP) untuk memetakan tingkat moral distress. Rata-rata skor yang ditemukan berada pada kategori sedang, menggambarkan adanya tantangan yang perlu diperhatikan bersama.
Tiga faktor yang paling sering muncul meliputi beban dokumentasi administratif yang tinggi, keterbatasan fasilitas dan peralatan, serta komunikasi tim yang belum optimal. Faktor-faktor tersebut berpotensi menghambat efektivitas pelayanan, meskipun tenaga kesehatan tetap berupaya memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.
Temuan ini memberikan gambaran penting bagi pemerintah daerah, institusi kesehatan, dan pemangku kebijakan. Upaya seperti penyederhanaan alur administrasi, peningkatan sarana pelayanan, penguatan kolaborasi tim, dan sistem pendukung organisasi dinilai dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui sudut pandang etika kesehatan masyarakat, studi ini menegaskan bahwa kesejahteraan tenaga kesehatan merupakan fondasi penting dalam menjaga mutu pelayanan primer di Indonesia. Puskesmas yang kuat berarti masyarakat yang lebih sehat dan sistem kesehatan yang lebih tangguh.
Temuan penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam memperkuat sistem kesehatan primer yang berkeadilan. Upaya mengurangi moral distress tenaga kesehatan berkontribusi langsung pada SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kualitas layanan dan kesejahteraan penyedia layanan. Lingkungan kerja yang mendukung, etis, dan manusiawi selaras dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), sementara pemerataan sumber daya puskesmas membantu mendorong SDG 10 (Reduced Inequalities). Selain itu, peningkatan tata kelola organisasi, transparansi, dan budaya kerja kolaboratif juga mendukung SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions). Untuk mencapai perubahan berkelanjutan, diperlukan kemitraan lintas sektor antara akademisi, pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat, sesuai dengan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals).
Kontributor: Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc
Editor: Rafi Khairuna Wibisono, S.Kom