• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Program Studi Bioetika
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Pengelola dan Staf
    • Afiliasi
      • CBMH FK-KMK UGM
      • Unesco Chair on Bioethics UGM
    • Fasilitas
      • Sarana Prasarana
    • Akreditasi & Penjaminan Mutu
      • Akreditasi
      • Hasil Audit Mutu Internal (AMI)
    • Tracer Study dan Kepuasan Pengguna
      • Survei Kepuasan Pengguna Lulusan
      • Tracer Study
  • Akademik
    • Keilmuan Bioetika
    • Dosen Pengajar
    • Kurikulum
    • Profil Lulusan
    • Academic Life
    • Publikasi
      • Karya Ilmiah
    • Layanan Mahasiswa
      • Bimbingan Konseling
      • Layanan Kesehatan
      • Unit Layanan Disabilitas
  • Kemahasiswaan
    • Alumni
    • Galeri
    • Tesis
    • Prestasi
  • Berita dan SDGs
    • Kabar Terbaru
    • Kegiatan Rutin
      • Bioethics HELP Course
      • RABOAN Bioetika
  • Info
    • FAQ
    • Pendaftaran
    • Administrasi Akademik
    • Kalender Akademik
    • Informasi Yudisium
    • Download
    • Hubungi Kami
  • Beranda
  • Archive
  • Berita SDGs
  • Belajar Sejarah: Fondasi Krusial untuk Masa Depan Berkelanjutan dan Beretika

Belajar Sejarah: Fondasi Krusial untuk Masa Depan Berkelanjutan dan Beretika

  • Berita SDGs, Kabar Terbaru, Raboan
  • 18 Juli 2025, 12.21
  • Oleh: cbmhfkugm
  • 0

Yogyakarta, 16 Juli 2025 – Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, mempelajari sejarah bukan hanya tentang mengingat masa lalu, namun juga memahami arah masa depan. Sejarah memberi kita pelajaran penting, termasuk nilai-nilai etika dan keadilan. Prinsip “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) sangat relevan dalam diskusi Raboan Research and Perspective Sharing kali ini, yang mengangkat tema terkait “Ethical Considerations in Historical Research: Locating Archives and Conducting Interviews.” Raboan kali ini menghadirkan Professor Hans Pols dari University of Sydney dan dimoderatori oleh Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, M.S.N., dari CBMH UGM.

Prof. Hans menjelaskan bahwa sejarah kini tak lagi hanya diceritakan dari sudut pandang para penguasa atau elit. Kini, sejarah juga menjadi ruang untuk mengangkat suara-suara yang selama ini terpinggirkan, seperti perempuan, buruh, dan kelompok etnis minoritas, sehingga dapat memberi kita pandangan yang lebih luas dan adil tentang masa lalu.

Prof. Hans juga menekankan pentingnya arsip sebagai sumber informasi penting tentang peristiwa dan tokoh masa lalu. Namun, penggunaan arsip juga menghadirkan tantangan etis. Contohnya, arsip koran Hindia Belanda di Delpher.nl memang kaya akan data, namun masih berbahasa Belanda dan cenderung mewakili sudut pandang kolonial. Oleh karena itu, penting untuk melengkapinya dengan sumber-sumber lain yang merefleksikan pengalaman dan suara dari berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, termasuk melalui sejarah lisan yang lebih inklusif dan memperhatikan keberagaman perspektif.

Menurut Prof. Hans, etika dalam penulisan sejarah berarti kita harus berani menggali cerita-cerita yang tak biasa dan selama ini terlupakan atau tersembunyi dalam “keheningan” sejarah. Kita juga perlu memastikan bahwa buku, jurnal, dan database Sejarah serta pengetahuan bisa diakses oleh semua orang.

Topik ini berkaitan erat dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan mendorong pemahaman sejarah yang kritis dan inklusif, SDG 10: Mengurangi Ketimpangan, dengan mengangkat kisah kelompok-kelompok yang selama ini tersisih, serta SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh, dengan memahami akar konflik dan mendorong tata kelola yang lebih adil dan transparan.

Ketika kita belajar dari sejarah di masa lalu, maka kita dapat menyusun langkah-langkah yang lebih bijak untuk masa depan. Masa depan yang tidak hanya maju, namun juga beretika, adil, dan menghargai keberagaman.

 

Reporter: Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc

Editor: Alvira Rahmasari, S.H.G.

Tags: history research SDGs 10 SDGs 16 SDGs 4

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

  • Penguatan Kompetensi Etik Tenaga Kesehatan dalam HELP Course Batch 7 – 4th Series “Bioethics in Health Care Services (Part 1)”
  • Mahasiswa Magister Bioetika UGM Jadi Pembicara Kongres Nasional KMKI, Bahas Pentingnya Bioetika dalam Panggilan Medis
  • Magister Bioetika bersama CBMH FK-KMK UGM Selenggarakan HELP Batch 7 Series 5 Bahas Dilema Etik Pelayanan Kesehatan
  • Dari Krisis Lingkungan ke Refleksi Moral: Kuliah Tamu Bioetika Lingkungan Bersama Dr. Priyaji Agung Pambudi
  • Serah Terima Jabatan Ketua Program Studi Magister Bioetika UGM Periode 2026–2031
Universitas Gadjah Mada

SEKOLAH PASCASARJANA LINTAS DISIPLIN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

PRODI MAGISTER BIOETIKA

Gedung Sekolah Pascasarjana Lantai 2
Jl. Teknika Utara, Pogung, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 544975, 564239
email: bioetika.pasca@ugm.ac.id

 

Social Media:

Instagram
Instagram


TikTok
TikTok

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY