• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Program Studi Bioetika
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Pengelola dan Staf
    • Afiliasi
      • CBMH FK-KMK UGM
      • Unesco Chair on Bioethics UGM
    • Fasilitas
      • Sarana Prasarana
    • Akreditasi & Penjaminan Mutu
      • Akreditasi
      • Hasil Audit Mutu Internal (AMI)
    • Tracer Study dan Kepuasan Pengguna
      • Survei Kepuasan Pengguna Lulusan
      • Tracer Study
  • Akademik
    • Keilmuan Bioetika
    • Dosen Pengajar
    • Kurikulum
    • Profil Lulusan
    • Academic Life
    • Publikasi
      • Karya Ilmiah
    • Layanan Mahasiswa
      • Bimbingan Konseling
      • Layanan Kesehatan
      • Unit Layanan Disabilitas
  • Kemahasiswaan
    • Alumni
    • Galeri
    • Tesis
    • Prestasi
  • Berita dan SDGs
    • Kabar Terbaru
    • Kegiatan Rutin
      • Bioethics HELP Course
      • RABOAN Bioetika
  • Info
    • FAQ
    • Pendaftaran
    • Administrasi Akademik
    • Kalender Akademik
    • Informasi Yudisium
    • Download
    • Hubungi Kami
  • Beranda
  • Archive
  • Berita SDGs
  • “Tayang Dulu, Dipecat Kemudian?” Belajar dari Kasus Medsos Nakes: Etika, Reputasi, dan Marketing Rumah Sakit

“Tayang Dulu, Dipecat Kemudian?” Belajar dari Kasus Medsos Nakes: Etika, Reputasi, dan Marketing Rumah Sakit

  • Berita SDGs, Kabar Terbaru, Raboan
  • 16 Juni 2025, 14.20
  • Oleh: cbmhfkugm
  • 0

Yogyakarta, 11 Juni 2025 – Diskusi mingguan Raboan Research and Perspective Sharing kembali hadir dengan topik yang aktual dan relevan di era digital: “Tayang Dulu, Dipecat Kemudian? Belajar dari Kasus Medsos Nakes: Etika, Reputasi, dan Marketing Rumah Sakit”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom dan menghadirkan narasumber utama, Dr. dr. Jodi Visnu, MPH, seorang Health-Marketing Strategist di rumah sakit. Diskusi ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, promosi kesehatan rumah sakit, hingga konten kreator media sosial. Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi aktif yang terjadi sepanjang acara, menandakan isu ini menjadi perhatian serius bagi dunia kesehatan maupun publik digital.

Dalam paparannya, dr. Jodi menyoroti bagaimana tenaga medis kini tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan kesehatan, namun juga sebagai influencer institusional yang kontennya di media sosial bisa berdampak langsung pada citra dan reputasi rumah sakit. Fenomena konten viral dari nakes yang kemudian menimbulkan krisis etik hingga pemecatan mencerminkan belum matangnya tata kelola komunikasi digital dalam institusi kesehatan.

Pemaparan contoh kasus tenaga kesehatan dan medis dalam dunia digital

Beliau menjelaskan bahwa meskipun rumah sakit didorong untuk lebih terbuka dan aktif mengedukasi masyarakat, penting untuk membedakan mana yang bertujuan memberikan informasi yang bermanfaat dan mana yang hanya ingin viral demi promosi. Etika bukan untuk membatasi kreativitas, tapi justru menjadi panduan agar komunikasi yang dilakukan tetap bertanggung jawab, menghormati semua pihak, dan tidak merugikan, khususnya pasien. Beliau juga mendorong agar kode etik profesi ditanamkan sejak dini dalam pendidikan kesehatan, serta dipertegas melalui kebijakan internal rumah sakit yang adaptif terhadap era digital.

Kegiatan ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 3 (kehidupan sehat dan sejahtera) dan SDG 4 (pendidikan berkualitas). Dalam konteks SDG 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), topik ini menekankan pentingnya komunikasi yang etis dan empatik dalam layanan kesehatan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik, melindungi hak pasien, dan menciptakan sistem pelayanan yang holistik serta bermartabat. Sementara itu, SDG 4 (pendidikan berkualitas) tercermin dari perlunya literasi digital dan penanaman kode etik sejak pendidikan profesi kesehatan.

Raboan kali ini menjadi ruang reflektif yang penting bagi para peserta untuk meninjau ulang secara kritis bagaimana media sosial berperan dalam membentuk persepsi publik serta bagaimana konten yang diunggah oleh tenaga kesehatan dapat memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi layanan kesehatan. Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk memahami bahwa media sosial bukan hanya sekadar sarana berbagi informasi, tetapi juga alat yang memiliki dampak besar terhadap citra, reputasi, dan legitimasi etis dari rumah sakit maupun profesi kesehatan itu sendiri.

 

Reporter          : Alvira Rahmasari, S.H.G.

Editor              : Rafi Khairuna Wibisono, S.Kom.

Tags: media sosial promosi kesehatan rumah sakit SDGs 3 SDGs 4 tenaga kesehatan viralitas

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

  • Penguatan Kompetensi Etik Tenaga Kesehatan dalam HELP Course Batch 7 – 4th Series “Bioethics in Health Care Services (Part 1)”
  • Mahasiswa Magister Bioetika UGM Jadi Pembicara Kongres Nasional KMKI, Bahas Pentingnya Bioetika dalam Panggilan Medis
  • Magister Bioetika bersama CBMH FK-KMK UGM Selenggarakan HELP Batch 7 Series 5 Bahas Dilema Etik Pelayanan Kesehatan
  • Dari Krisis Lingkungan ke Refleksi Moral: Kuliah Tamu Bioetika Lingkungan Bersama Dr. Priyaji Agung Pambudi
  • Serah Terima Jabatan Ketua Program Studi Magister Bioetika UGM Periode 2026–2031
Universitas Gadjah Mada

SEKOLAH PASCASARJANA LINTAS DISIPLIN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

PRODI MAGISTER BIOETIKA

Gedung Sekolah Pascasarjana Lantai 2
Jl. Teknika Utara, Pogung, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 544975, 564239
email: bioetika.pasca@ugm.ac.id

 

Social Media:

Instagram
Instagram


TikTok
TikTok

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY