• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Program Studi Bioetika
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Pengelola dan Staf
    • Afiliasi
      • CBMH FK-KMK UGM
      • Unesco Chair on Bioethics UGM
    • Fasilitas
      • Sarana Prasarana
    • Akreditasi & Penjaminan Mutu
      • Akreditasi
      • Penjamin Mutu Internal
    • Tracer Study dan Kepuasan Pengguna
      • Survei Kepuasan Pengguna Lulusan
      • Tracer Study
  • Akademik
    • Keilmuan Bioetika
    • Dosen Pengajar
    • Kurikulum
    • Lulusan Bioetika
    • Academic Life
    • Publikasi
      • Karya Ilmiah
      • Publikasi Dosen Pengajar
    • Layanan Mahasiswa
      • Bimbingan Konseling
      • Layanan Kesehatan
      • Unit Layanan Disabilitas
  • Kemahasiswaan
    • Alumni
    • Galeri
    • Tesis
    • Prestasi
  • Kabar Terbaru
  • Info
    • FAQ
    • Pendaftaran
    • Administrasi Akademik
    • Kalender Akademik
    • Informasi Yudisium
    • Download
    • Hubungi Kami
  • Beranda
  • Archive
  • Berita SDGs
  • Siapa sebenarnya yang punya keputusan atas tubuh kita?

Siapa sebenarnya yang punya keputusan atas tubuh kita?

  • Berita SDGs, Kabar Terbaru, Raboan
  • 10 Juni 2025, 13.43
  • Oleh: cbmhfkugm
  • 0

Yogyakarta, 4 Juni 2025 – Diskusi mingguan Raboan Research and Perspective Sharing kembali digelar pada Rabu (4/6) dengan topik yang dekat dengan realita masyarakat saat pandemi. Kali ini, Nathan Agwin Khenda, Ftr., M. Bio.Et., hadir sebagai narasumber membawakan topik “Persepsi Tenaga Kesehatan Mengenai Otonomi Kekerabatan dalam Pengambilan Keputusan Tindakan Medis oleh Pasien Saat Pandemi COVID-19.”

Dalam pemaparannya, Khenda menjelaskan bahwa selama pandemi, banyak pasien tidak bisa mengambil keputusan sendiri soal tindakan medis, baik karena sakit berat, kurang informasi, atau situasi darurat. Akhirnya, keputusan sering diambil oleh keluarga, tokoh masyarakat, atau bahkan langsung oleh tenaga medis.

Menurut Khenda, ini tidak lepas dari budaya komunal yang kuat di Indonesia, di mana keputusan penting biasanya dibahas bersama keluarga. Hal ini dikenal sebagai “otonomi kekerabatan”, yaitu keputusan medis yang tidak hanya diambil oleh pasien, tetapi juga melibatkan orang-orang terdekat.

Ia juga menyoroti pengalaman tenaga kesehatan di dua rumah sakit dengan tipe pasien yang berbeda. Hasilnya, banyak faktor yang memengaruhi proses pengambilan keputusan, seperti nilai-nilai budaya, kedekatan keluarga, hingga situasi darurat. Dalam kondisi normal, edukasi pasien dan keluarga menjadi langkah penting sebelum tindakan medis dilakukan. Tapi saat kondisi gawat, dokter harus segera bertindak demi menyelamatkan nyawa.

“Dalam kondisi krisis, prinsip utama yang dipegang tenaga kesehatan adalah beneficence atau mengutamakan kebaikan pasien, serta minus mallum yaitu memilih tindakan yang paling minim risikonya,” ujar Khenda.

Diskusi ini juga punya kaitan dengan upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 3 (Kesehatan yang Baik) dan poin 16 (Keadilan dan Institusi yang Tangguh). Artinya, sistem kesehatan ideal itu bukan cuma soal fasilitas, tapi juga soal menghormati nilai budaya dan hak setiap orang, baik sebagai individu maupun bagian dari keluarga.

Raboan kali ini mengajak kita merenungkan ulang: dalam situasi genting, siapa sebenarnya yang punya keputusan atas tubuh kita? Dan bagaimana budaya, keluarga, dan etika saling memengaruhi jawabannya?

Reporter          : Ardhini Nugrahaeni, M.K.M.

Editor              : Alvira Rahmasari, S.H.G.

Tags: COVID 19 keluarga otonomi pandemi SDGs 16 SDGs 3

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

  • Magister Bioetika bersama CBMH FK-KMK UGM Selenggarakan HELP Batch 7 Series 5 Bahas Dilema Etik Pelayanan Kesehatan
  • Dari Krisis Lingkungan ke Refleksi Moral: Kuliah Tamu Bioetika Lingkungan Bersama Dr. Priyaji Agung Pambudi
  • Serah Terima Jabatan Ketua Program Studi Magister Bioetika UGM Periode 2026–2031
  • Meneguhkan Etika dalam Perkembangan Teknologi Kedokteran
  • Mengupas Dilema Etik Transisi dari Ruang Kuliah ke Ruang Klinik
Universitas Gadjah Mada

SEKOLAH PASCASARJANA LINTAS DISIPLIN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

PRODI MAGISTER BIOETIKA

Gedung Sekolah Pascasarjana Lantai 2
Jl. Teknika Utara, Pogung, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 544975, 564239
email: bioetika.pasca@ugm.ac.id

 

Social Media:

Instagram
Instagram


TikTok
TikTok

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY