• UGM
  • SPs UGM
  • Library
  • IT Center
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Program Studi Bioetika
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Visi, Misi dan Tujuan
    • Pengelola dan Staf
    • Afiliasi
      • CBMH FK-KMK UGM
      • Unesco Chair on Bioethics UGM
    • Fasilitas
      • Sarana Prasarana
    • Akreditasi & Penjaminan Mutu
      • Akreditasi
      • Hasil Audit Mutu Internal (AMI)
    • Tracer Study dan Kepuasan Pengguna
      • Survei Kepuasan Pengguna Lulusan
      • Tracer Study
  • Akademik
    • Keilmuan Bioetika
    • Dosen Pengajar
    • Kurikulum
    • Profil Lulusan
    • Academic Life
    • Publikasi
      • Karya Ilmiah
    • Layanan Mahasiswa
      • Bimbingan Konseling
      • Layanan Kesehatan
      • Unit Layanan Disabilitas
  • Kemahasiswaan
    • Alumni
    • Galeri
    • Tesis
    • Prestasi
  • Berita dan SDGs
    • Kabar Terbaru
    • Kegiatan Rutin
      • Bioethics HELP Course
      • RABOAN Bioetika
  • Info
    • FAQ
    • Pendaftaran
    • Administrasi Akademik
    • Kalender Akademik
    • Informasi Yudisium
    • Download
    • Hubungi Kami
  • Beranda
  • Archive
  • Berita SDGs
  • Perlukah Imunisasi pada Bayi?

Perlukah Imunisasi pada Bayi?

  • Berita SDGs, Kabar Terbaru, Raboan
  • 22 April 2025, 15.10
  • Oleh: cbmhfkugm
  • 0

Yogyakarta, 16 April 2025 – Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan diskusi mingguan bertajuk Raboan Sharing & Perspective Sharing, yang kali ini mengangkat tema “Etika Imunisasi”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, Sp.A, dokter spesialis anak sekaligus dosen, sebagai narasumber utama, dengan Ns. Wahyu Dewi Sulistyarini, MSN, bertindak sebagai moderator.

BIOETIKA HUMANIORA MEDICAL ETHICS

Dalam paparannya, Dr. Wikan menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu upaya paling penting dalam membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit. Meski demikian, pelaksanaannya juga memunculkan sejumlah tantangan dari sudut pandang etika biomedis, seperti prinsip non-maleficence (tidak membahayakan), justice (keadilan), autonomy (kebebasan), dan beneficence (kebaikan).
“Sebagai tenaga medis, kita tidak hanya bertugas memberikan manfaat secara medis, namun juga memastikan bahwa tindakan yang kita lakukan bersifat adil dan menghormati hak pasien,” ujar Dr. Wikan.

BIOETIKA HUMANIORA MEDICAL ETHICS
Lebih lanjut, beliau mengangkat isu medical paternalism, yaitu keputusan dokter yang membatasi otonomi pasien atas dasar kebaikan pasien itu sendiri atau masyarakat. Dr. Wikan menjelaskan bahwa pendekatan paternalistik bisa dibenarkan secara etika dalam kondisi tertentu, seperti ketika terdapat risiko serius yang dapat dicegah, pasien tidak mampu mengambil keputusan secara otonom, dan tindakan tersebut memberikan manfaat yang signifikan bagi pasien. Diskusi ini juga menyinggung regulasi nasional terkait imunisasi, di antaranya Peraturan Menteri Kesehatan No. 12 Tahun 2017 dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 4 Tahun 2016 yang menyatakan bahwa imunisasi hukumnya mubah atau diperbolehkan dalam Islam.

Dr. Wikan menutup diskusi dengan menekankan pentingnya keterbukaan informasi dalam pelaksanaan imunisasi. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program imunisasi nasional membutuhkan keterlibatan aktif dokter dalam memberikan edukasi menyeluruh, serta penghormatan terhadap hak orang tua untuk membuat keputusan secara sadar dan bebas.
“Kita perlu menyukseskan program imunisasi nasional, tetapi tetap perlu mengkritisi pelaksanaannya dari sisi etika. Sudahkah kita bijak?” tandasnya.Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan bukan semata-mata persoalan medis, melainkan juga menyangkut nilai, hak, dan pilihan moral dalam masyarakat yang majemuk. Isu Etika Imunisasi memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDGs 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik, serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Melalui pendidikan etika kedokteran yang baik, tenaga kesehatan diharapkan dapat mengambil keputusan klinis dengan lebih bijak dan berkeadilan, termasuk dalam praktik imunisasi.

Reporter : Ardhini Nugraheni, M.K.M.
Editor : Alvira Rahmasari, S.H.G.

Tags: Bioetika UGM Raboan SDGs 3 SDGs 4

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

  • Penguatan Kompetensi Etik Tenaga Kesehatan dalam HELP Course Batch 7 – 4th Series “Bioethics in Health Care Services (Part 1)”
  • Mahasiswa Magister Bioetika UGM Jadi Pembicara Kongres Nasional KMKI, Bahas Pentingnya Bioetika dalam Panggilan Medis
  • Magister Bioetika bersama CBMH FK-KMK UGM Selenggarakan HELP Batch 7 Series 5 Bahas Dilema Etik Pelayanan Kesehatan
  • Dari Krisis Lingkungan ke Refleksi Moral: Kuliah Tamu Bioetika Lingkungan Bersama Dr. Priyaji Agung Pambudi
  • Serah Terima Jabatan Ketua Program Studi Magister Bioetika UGM Periode 2026–2031
Universitas Gadjah Mada

SEKOLAH PASCASARJANA LINTAS DISIPLIN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

PRODI MAGISTER BIOETIKA

Gedung Sekolah Pascasarjana Lantai 2
Jl. Teknika Utara, Pogung, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55281
Telp. (0274) 544975, 564239
email: bioetika.pasca@ugm.ac.id

 

Social Media:

Instagram
Instagram


TikTok
TikTok

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY